Senin, 10 November 2025

Cerita Sex Terbaru Kehidupanku Yang Bebas Membuatku Terjerumus Sex Bebas

Cerita Sex Terbaru Kehidupanku Yang Bebas Membuatku Terjerumus Sex Bebas

Ceritafiksimalam - Namaku Cindy Elvina. Usiaku 16 tahun. Saya sekolah di suatu SMU swasta populer di Surabaya. Sudah nyaris setahun ini hidupku penuh berisi

kesenangan- kesenangan yang liar. Dugem, ineks serta seks leluasa. Hingga kesimpulannya saya terjerumus dalam ambang kehancuran. Terombang- ambing dalam ketidak pastian. Saya bimbang apa yang kucari. Saya bimbang wajib kemana arah serta tujuanku. Apa yang sepanjang ini kulakukan tidak membagikan kemajuan yang positif. Apalagi saya hampir edan. Siapakah saya ini? Sejujurnya saya menyesali kondisiku yang semacam ini. Keterlibatanku dengan narkoba sudah membawaku ke dalam kehidupan yang kelam. Sangat kejam! Saya jadi berangan- angan mau kembali ke kehidupan lamaku dimana saya belum memahami narkoba. Dikala itu begitu indah. Orang tuaku sayang padaku.

Josef pacarku dengan setia terletak disisiku serta ia senantiasa tiba buat menghibur serta menemaniku. Saya jadi ingat pada hari- hari tertentu, sahabat sekolahku tiba main ke rumah buat mengerjakan tugas ataupun cuma hanya berkumpul. Jika lagi terdapat pacarku, mereka senantiasa menggoda kami selaku pendamping serasi. Sementara itu menurutku kami bertolak balik. Saya pemalu serta gampang merajuk. Lagi pacarku biang kerok di sekolah serta tidak ketahui malu.

Saya berprestasi dalam pelajaran tetapi kurang memahami bidang olah raga. Sebaliknya ia berprestasi dalam olah raga tetapi malas belajar. Tinggiku lagi serta badanku agak kurus. Sebaliknya ia besar serta besar. Pokoknya beda banget. Tetapi sahabat sekolah berkata kami pendamping serasi. Entah apanya yang serasi.. Saya masih ingat saat- saat terakhir ia meninggalkan saya buat sekolah ke Amerika. Terdapat setitik firasat kalau itu merupakan dikala terakhir saya bersamanya. 

Saya menangis tiada henti di lapangan terbang semacam orang bodoh. Tidak terdapat kata yang terucap, cuma sedu sedan lirih terdengar dari mulutku. Orang tuanya hingga sungkan pada orang tuaku serta berupaya menghiburku dengan berkata kalau Josef hendak kerap kembali ke Indonesia buat menengokku. Orang tuaku juga tidak kalah serta berjanji padaku hendak menyekolahkan saya ke Amerika selepas SMU. Kata orang cinta hendak lebih terasa dikala terpisahkan oleh jarak. Saya tidak tabah buat membuka e- mail tiap malam.

Telepon internasional seminggu sekali jadi pelepas dahaga apabila saya rindu suaranya. Tiap malam menjelang tidur, saya melihat- lihat gambar kami berdua. Serta tidak kurang ingat saya mendoakan ia. Saat ini Josef tidak hendak ingin memandangku lagi. Laporan dari sahabatnya yang memandang saya berkeliaran di diskotik- diskotik dengan lelaki lain buatnya murka serta tidak mempercayai saya. Ia mengadili saya yang cuma dapat menangis serta berjanji hendak menghentikan perbuatanku. Tetapi apa energi, di belahan dunia lain, Josef tidak hendak dapat memandang keseriusanku. Ia memohon buat mengakhiri hubungannya denganku walaupun saya menangis meraung- raung di telepon.

Saya tidak berdaya. Ia begitu kerasnya tidak mengampuni kesalahanku. Yah memanglah seluruh itu memanglah salahku. Tetapi apakah saya tidak memiliki peluang buat membetulkan kesalahan? Apakah tiap orang tidak sempat khilaf? Apakah sama sekali tidak terdapat ampun untukku? Ia dahulu berkata apa juga yang terjalin hendak senantiasa mencintaiku. Hendak senantiasa menjagaku. Terus menjadi hari cintanya padaku hendak terus menjadi besar. Nyatanya, bohong! Itu seluruh cuma bohong belaka! Dikala ini saya jadi ceweq bodoh, kerap melamun serta gampang tekanan pikiran. Bukan cuma hubunganku dengan Josef yang sirna.

Hubunganku dengan bapak ibuku pula memburuk. Mereka telah menyerah mengalami saya yang nyaris tiap hari kembali pagi. Mereka apalagi mengecam hendak mengusir saya apabila terus menerus semacam ini. Saya jadi kerap membolos sekolah. Prestasiku di sekolah kian hari kian memburuk. Saya sudah kehabisan atensi buat belajar serta mencapai ranking besar di sekolah. Ikatan sosial dengan sahabat sekolahku pula terus menjadi kurang baik. Saya malas berteman dengan mereka. Saya khawatir mereka mengenali siapa saya sesungguhnya. Saya khawatir mereka menyebarkan tingkah lakuku sesungguhnya. Saya khawatir.. Saya jadi paranoid! Saya jadi gampang curiga dengan seluruh orang.

Saya jadi susah tidur serta melamun yang tidak- tidak. Saya jadi kerap mimpi kurang baik serta kian susah membedakan mana mimpi serta realitas. Lambat- laun saya dapat edan! Saya mau menyudahi memakai narkoba serta sesegera bisa jadi meninggalkan dunia gemerlap yang sepanjang setahun ini kugeluti. Tetapi saya susah meninggalkannya. Saya terperangkap di dalamnya! Ineks! Seluruh ini gara- gara kapsul setan itu! Badanku terus menjadi kurus.

Mataku cekung dihiasi garis gelap dibawahnya. Saya tidak mengidentifikasi wajahku sendiri di hadapan kaca. Apalagi Mamaku telah mengecap saya selaku perempuan bandel. Yah.. perempuan bandel.. saya memanglah sudah jadi perempuan bandel. Saya sudah membebaskan keperawananku pada seseorang laki- laki yang bukan suamiku. Saya malu pada diriku serta pada orang tuaku. Diriku bukan Cindy Elvina yang dahulu. Cindy Elvina yang senantiasa mencapai prestasi di sekolah. Cindy Elvina yang senantiasa membanggakan orang tua. Cindy Elvina yang giat ke gereja. Cindy Elvina yang lugu serta pemalu. Cindy Elvina yang senantiasa jujur serta berterus cerah.. Malam itu entah malam keberapa saya ke diskotik dengan Martin. Sehabis triping gila- gilaan bersama sahabat, saya kembali bersama Martin. Sesungguhnya saya malas kembali sebab masih dalam kondisi on berat.

Baca Juga : Cerita Sex Terbaru Dukun Cabul Menikmati Tubuhku

Gara- gara Bandar gede dari Jakarta tiba, seluruh jadi mayoritas ineks. Badanku terus bergetar tiada henti, serta rahangku bergerak- gerak ke kiri serta kekanan. Dengan eratnya saya peluk lengan Martin seakan- akan khawatir kehabisan dirinya. Tidak semacam umumnya Martin mengajakku putar- putar keliling kota. Bisa jadi ia kasihan memandang saya masih on berat serta tidak tega membiarkan saya sendirian di rumah. Saya sih happy- happy saja. Kuputar lagu- lagu house music agak kencang, walaupun saya ketahui dampaknya dapat parah. Tidak hingga 5 menit, lagu house music serta hembusan hawa AC yang dingin membuat saya on lagi!

Saya menggerak- gerakkan tubuh, kepala serta tanganku di bangku sebelah. Rasanya asik sekali triping dalam mobil yang melaju membelah kota! Martin tertawa memandang saya memutar- mutar kepala semacam angin puyuh.“ Untung cermin film mobilku hitam. Jadi saya tidak butuh khawatir orang- orang memandang tingkahmu!” ucapnya. Hahaha.. rasanya dikala itu saya tidak hirau ingin dilihat orang, polisi, hansip ataupun siapa juga pula, saya tidak hendak hirau! Lagipula ini masih jam 3 pagi.

Sehabis separuh jam kami putar- putar kota, kesimpulannya kami hingga di wilayah dekat rumah Martin. Fantasi Malam Indonesia Martin menganjurkan supaya saya meneruskan tripingku di rumahnya. Karena sangat riskan apabila triping di jalanan semacam itu. Jika lagi sial dapat ketangkap polisi. Saya yang telah tidak dapat berpikir lagi Hanya mengiyakan seluruh omongannya. Hingga di rumahnya, saya langsung diantar ke kamarnya. Sembari meletakkan kunci mobil, Martin menyalakan ac serta memutar lagu house music untukku. Wah ia betul- betul mau membuat saya on terus hingga pagi! Ok, Saya layani! Kurebut remote ac dari tangannya serta ku setel dengan temperatur sangat rendah.

Martin yang telah drop, begitu mencium bau ranjang langsung hendak merebahkan tubuhnya yang besar itu ke tempat tidur. Pasti saja saya tidak mau tripping sendiri! Kutarik tangannya serta kuajak ia goyang lagi. Martin mengerang serta senantiasa menutup mukanya dengan bantal. Tingkahnya terbuat manja semacam anak kecil. Tidak habis pikir saya lekas mencari koleksi minumannya di mejanya. Kusambar sebotol Martell VSOP serta kupaksa ia minum. Mulanya Martin menolak dengan alibi esok wajib kerja. Tetapi saya memforsir terus sampai ia tidak berkutik. Sebagian teguk Martell membuahkan hasil pula.

Diriku Mengerang Nikmat Saat Martin Menggarap Tubuhku

Cindy Elvina Gadis Indonesia

Cerita Sex Terbaru - Martin bangun serta duduk didepanku. Saya lekas memeluknya dari balik serta menggodanya dengan manja.“ Jika kalian ingin nemenin saya tripinng.. hari ini saya jadi milikmu.”“ Milikku seluruhnya..? Ehm.. I love it!” Balas Martin bandel.“ Ya.. ehm.. jadi milikmu..” gumamku di dekat telinganya. Saya memeluknya dari balik serta menciumi telinganya hingga ia kegelian. Saya terus menggodanya dengan menciumi leher serta bahunya. Seketika ia membalikkan tubuh serta menyergapku! Saya kaget pula serta berteriak kecil. Martin mendekapku erat- erat serta balas menciumi wajah, leher serta telingaku. Saya menjerit- jerit kegelian oleh tingkahnya. Lambat- laun ciuman Martin terus menjadi turun ke dasar. Ia melorotkan tali tank- topku serta menciumi buah dadaku dengan ganas sembari mendengus- dengus. Saya bergetar menahan geli serta rangsangan yang hebat. Otot- otot tubuh serta kakiku terasa kaku seluruh. Tidak puas menciumi dadaku, Martin meloloskan bra yang menutupi dadaku sehingga kedua buah dadaku tersembul keluar.“ Woow.. saya sangat suka payudaramu!” desisnya. Saya sangat suka jika keelokan tubuhku dipuji. Ia mengucapkan perkata itu dengan mata berbinar- binar sehingga membuatku tersanjung.

Pasti saja saya langsung menutupi dadaku dengan kedua tanganku seakan- akan melarangnya buat memandang. Sedetik setelah itu ia membuka kedua tanganku serta membungkuk kearah dadaku kemudian mendekatkan mulutnya ke puting kananku. Dengusan napasnya yang menimpa putingku telah dapat membuatku menggelinjang. Pelan- pelan lidahnya menjilat putingku sekilas, kemudian menyudahi serta memandang reaksiku. Saya memejamkan mata serta mendengus. Perasaanku melambung hingga ke awang- awang! Kala kubuka mataku, ia memandangku sembari tersenyum bandel. Saya memukulnya. Setelah itu ia menjilat puting kiriku sekilas. Saya kembali menggelinjang- gelinjang.

Saya merasa detik- detik penantian apa yang hendak dicoba Martin pada putingku membuat saya kian penasaran. Saya mengerang- erang mau supaya Martin meneruskan aksinya. Saya telah sangat terangsang sampai memohon- mohon padanya supaya memuaskan saya. Martin tersenyum manis sekali kemudian mulai memasukan putingku ke mulutnya. Putingku dipermainkan dengan mulut serta lidahnya yang hangat.

Saya bergetar serta menggelinjang menggila. Keahlian Martin memicu serta memuaskan saya telah teruji. Rangsangan yang hebat melupakan seluruh janji yang sempat kubuat. Martin sangat terangsang warnanya. Saya merasa terdapat yang mengganjal di bagian dasar perutku serta menyodok- nyodok kemaluanku. Saya membuka kedua kakiku lebar- lebar serta merubah posisi pinggulku supaya kemaluanku bergesekan dengan penisnya. Masing- masing kali penisnya menggesek klitorisku saya mengerang serta merenggut apa saja yang dapat kurenggut tercantum rambutnya. Nafas kita yang mendengus- dengus bersahut- sahutan bersaing dengan lagu house music yang penuhi ruangan.

Martin meneruskan aksinya sembari melepas pakaianku satu persatu sampai saya telanjang bundar. Saya memandang mukanya dengan perasaan tidak karuan. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri serta mulai menyerangku dengan ganas. Saya diciumi mulai mulut turun ke leher kemudian ke buah dadaku. Setelah itu turun lagi melewati pusar serta bulu kemaluanku. Ia menyudahi sesaat sembari memandang saya yang telah terangsang berat.“ Martin.. cium anuku please..” pintaku terbata- bata.“ Hehehe..” Desisnya pelan. Kemudian tanpa menunggu perintah kedua kalinya, ia mulai merubah letaknya supaya mulutnya cocok di kemaluanku. Cerita Sex Dewasa setelah itu kakiku dibuka lebar- lebar ke atas sehingga kemaluanku menyembul di antara pahaku. Saya merasa hawa dingin menerpa bagian dalam kemaluanku yang merekah.

Saya memejamkan mata berdebar- debar menunggu Martin mengawali aksinya. Martin menciumi sisi luar kemaluanku dengan lama- lama. Saya mengerang tertahan serta mengerutkan dahi. Rasanya geli sekali! Ciumannya bergerak ke tengah serta menyudahi di klitorisku. Klitorisku diciuminya lama sekali semacam jika ia menciumi bibirku. Ia mengulum serta kadangkala menyedot kemaluanku dengan kokoh. Saya mendesah- desah keras sekali. Tidak tergambarkan rasanya. Kemudian kala lidahnya turut bermain, saya tidak kokoh menahan lebih lama lagi. Dibukanya bibir kemaluanku dengan jarinya, kemudian lidahnya dimasukan antara lain. Lidahnya memilin- milin klitorisku serta kadangkala masuk ke vaginaku dalam sekali. Erangan panjang menunjukkan kenikmatan yang tiada taranya. Saya malu sekali kala orgasme dihadapannya. Ritme ciumannya pada kemaluanku lambat- laun mengendur bersamaan dengan tekanan yang kurasakan.

Martin memanglah hebat. Ia telah berpengalaman memuaskan ceweq. Ia dapat ketahui timing yang pas kapan wajib kilat serta kapan wajib pelan. Saya jadi curiga apa ia menjabat selaku gigolo yang biasa memuaskan Tante- Tante kesepian. Hehehe..“ Lho kok kilat? Udah terangsang dari tadi ya?” tanyanya sembari senyum- senyum mesum. Mukaku memerah kala saya tidak dapat menanggapi pertanyaannya. Saya memukulnya dengan bantal sembari menggodanya.“ Kalian gigolo ya? Kok hebat banget?”“ Eh, gigolo! Kurang ajar! Gua ini memanglah Don Juan Surabaya ya! Belum sempat terdapat ceweq yang tidak puas jika main denganku!” katanya pongah.“ Teman- temanku hingga menjuluki saya‘ Sex Machine’!” lanjutnya.“ Ngibul! kalian tentu gigolo!” godaku sembari memukulnya dengan bantal lagi. Kami perang mulut sepanjang sebagian dikala.

Setelah itu Martin mengakhirinya dengan mengatakan,“ Lezat aja menghinaku! Selaku balasannya, nih..” Martin melompat kearahku serta memasukkan kepalanya diantara kakiku. Ia langsung melumat kemaluanku dengan mulutnya lebih ganas lagi sementara itu kemaluanku masih berdenyut- denyut geli. Saya menjerit- jerit karenanya. Gelinya luar biasa! Entah apakah kemaluanku telah sangat basah ataupun tidak, saya mendengar bunyi berkecipak di kemaluanku. Rasa geli yang menerpa lekas berganti jadi nikmat. Saya terhanyut lagi dalam game lidahnya. Saya orgasme buat yang kedua kalinya. Badanku rasanya lemas seluruh. Malam itu saya gampang sekali orgasme.

Entah apa bisa jadi itu sebab pengaruh ineks ataupun memanglah saya telah dalam kondisi puncak, saya tidak ketahui.. Kami break sebentar. Martin tidur terlentang. Kulihat penisnya berdiri tegak bagai tugu monas. Kepalanya yang merah mengkilat sebab cairan maninya meleleh keluar. Saya duduk di dipangkuannya serta memegang penisnya yang keras.“ Lho, semenjak kapan celana dalammu lepas? Saya kok tidak ketahui?” tanyaku.“ Hehehe.. kalian merem terus dari tadi sampe tidak ketahui kalo burungku udah menunggu- nunggu ditembakkan ke sasaran!” candanya. Saya kasihan padanya. Kuelus- elus penisnya sembari menggodanya. Kemudian saya naik ke atas badannya serta duduk pas diatas penisnya.

Martin nampak terangsang memandang tindakanku. Kugoyang- goyangkan pinggulku maju mundur diatas penisnya sembari kuelus- elus dadanya. Martin memejamkan matanya sembari merasakan sentuhan- sentuhan kemaluanku di penisnya. Saya pula merasa geli- geli nikmat dikala penisnya yang keras serta licin menggeser klitorisku. Lambat- laun Martin tidak kokoh menahan rangsangan. Ia bangkit serta memeluk tubuhku. Kami berciuman. Tanpa mempedulikan bau cairan vaginaku di mulutnya, saya terus menggoyangkan pinggulku maju mundur. Kemaluanku yang basah terus menjadi mempermudah penis Martin bergesekan diantar bibir kemaluanku. Gerakan kami kian lama kian liar, hingga kesimpulannya pertahananku runtuh! Penis Martin mengoyak keperawananku! Kepala penisnya selip serta masuk ke vaginaku.

Saya menjerit kaget serta gerakanku terhenti. Buat sesaat saya merasa sakit sebab terdapat barang sebesar itu masuk ke vaginaku. Martin pula menyudahi serta hendak mencabut penisnya dari vaginaku. Tetapi saya mencegahnya, Saya betul- betul terhanyut dalam fantasiku sendiri hendak kenikmatan persetubuhan. Kupeluknya erat- erat badannya. Disamping rasa sakit, saya merasakan sesuatu kenikmatan yang lain. Saya mau merasakan lebih lama lagi. Secara tidak sadar saya merendahkan pinggulku lambat- laun hingga penis Martin penuhi liang vaginaku.

Rasanya sangat luar biasa! Saya memeluk Martin sekuat tenaga dengan nafas terputus- putus. Kucengkeram punggungnya dengan kuku jariku tanpa hirau ia kesakitan ataupun tidak. Tidak terlukiskan perasaanku dikala itu. Saya mengerang- erang. Rasanya segala sarafku terputus serta terpusat di kemaluanku saja. Martin membiarkanku sesaat menikmati moment ini. Ia tentu pula lagi menikmati koyaknya selaput daraku. Lambat- laun Martin mulai menggoyangkan pinggulnya. Penisnya bergerak- gerak lama- lama dalam kemaluanku. Saya mendesah mengaduh- aduh menahan nikmat serta geli.

Vaginaku masih sangat sensitif hingga hingga saya tidak tahan kala penisnya digerak- gerakkan. Saya memandang sayu pada Martin.“ Mengapa saya tidak ketahui jika ML seenak ini? Jika ketahui, saya telah dari dahulu ingin making love sama kalian!” kataku parau. Mendengar perkataanku, sesaat Martin cuma memandangku tanpa ekspresi. Saya tidak bisa menduga apa yang terdapat dipikirannya. Kemudian dengan pemikiran yang melegakan, ia mencium keningku serta pipiku. Saya jadi tenang serta damai. Martin, saya sayang padamu, saya sayang padamu, saya sayang padamu. Tidak terdapat lagi Josef dalam kamusku. Saya cuma sayang padamu kataku dalam hati. Sex jauh lebih memabukkan daripada extacy! Saya tidak dapat berpikir jernih! Yang terdapat dipikiranku cuma terus serta terus.. tanpa akhir.. Martin mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku.

Mulanya lama- lama, lambat- laun terus menjadi kilat. Rasanya ingin mati saking nikmatnya. Saya tidak dapat mengatakan apa- apa. Cuma erangan serta desahan yang keluar dari mulutku. Dorongan penisnya yang menghujam keluar masuk ke dalam vaginaku membuatku tidak berdaya. Malam itu saya orgasme 4 kali. Martin menumpahkan spermanya di perutku serta terkapar disebelahku. Saya pula terkapar keletihan. Saking lelahnya saya hingga tidak kokoh buat bergerak mengambil tissue buat mensterilkan spermanya yang tumpah di perutku. Nyatanya orgasme dikala ML jauh lebih nikmat daripada dengan oral seks. Sangat berbeda.. Sehabis terkapar sebagian dikala, Martin membopongku ke kamar mandi serta memandikan saya. Saya terus menerus memandang mukanya serta mencari- cari cahaya apa yang terpancar di mukanya. Apakah ia benar mencintaiku ataupun saya cuma salah satu wanita koleksinya? Saya terus memeluknya dikala ia membilas tubuhku dengan air hangat serta mensterilkan kemaluanku. Setelah itu sehabis mensterilkan diri, kami tidur keletihan.

Besoknya dikala saya bangun, Martin telah tidak terdapat di sebelahku. Kulihat jam bilik menampilkan jam 9. Detik selanjutnya saya baru sadar jika tidur telanjang bundar serta cuma ditutupi selimut. Lambat- laun memoriku memutar balik peristiwa tadi malam. Agak sulit mengingat peristiwa tadi malam sehabis gunakan ineks serta minum minuman beralkohol. Sehabis ingat seluruh, dengan lunglai saya bangkit serta memandang kemaluanku. Kuraba serta kupegang kemaluanku. Rasa nikmat serta geli tadi malam masih terbayang di pikiranku.

Benak kurang baik mulai menggangguku Saya telah tidak perawan! Saya telah kehabisan keperawananku di umur ke 16 dengan cowoq yang bukan pacarku ataupun suamiku! Edan! Saya lepas kendali! Perkata Ling mulai teringat kembali. Dikala ia kehabisan keperawanannya awal kali, ia menangis menggila semalaman.

Tetapi saat ini ia telah biasa serta malah kerap making love. Saya teringat dikala Ling mengenalkan Martin padaku, ia memperingatkan Martin supaya jangan macam- macam padaku. Bermacam berbagai peristiwa dari dini saya tahu kehidupan malam hingga dikala ini kemudian lalang dalam pikiranku seakan- akan menyindirku. Saat ini seluruhnya sudah terjalin! Saya tidak yakin! Saya jadi semacam Ling! Saya mau menangis menyesali seluruhnya! Tetapi telah terlambat! Terlebih dikala saya memandang setitik bercak gelap pada sprei. Saya langsung menangis menggila. Saya merasa berdosa! Bayangan wajah Papa Mamaku berkelebat berganti- ganti dalam benakku. Saya merasa berdosa pada Papaku, pada Mamaku, pada kakakku, pada segala keluargaku! Saya ke kamar mandi buat mensterilkan diriku! Saya merasa kotor serta hina! Saya bukan Cindy Elvina yang dahulu lagi! Masa depanku sirna! Siapa yang ingin sama saya! Cowoq mana yang ingin menerima ceweq semacam saya! Ceweq yang telah tidak utuh lagi! Ceweq murahan! Saya benci diriku sendiri!

Saya benci seluruh orang! Saya menangis lama sekali di kamar mandi. Kutumpahkan seluruh perasaanku dalam air mata yang lekas tersapu guyuran air hangat. Sampai kesimpulannya saya tergeletak lemas di lantai kamar mandi. Sehabis bosan menangis, saya lekas beranjak dari kamar mandi serta menggunakan baju. Kuambil ponselku serta kukirim SMS pada Ling. Saya memohon ia menjemputku di rumah Martin. Ling menyanggupi serta berjanji hendak menjemput saya sepulang sekolah jam 13. 00Pukul sebelas Martin kembali ke rumah. Seketika perasanku jadi campur aduk dikala kudengar suara mobil Martin merambah rumah. Terdapat perasaan gusar yang menggebu- gebu padanya.“ Kok berani- beraninya orang segede ia menjerumuskan anak kecil! Bawah hidung belang!” pikirku gusar. Saya duduk di ranjang menghadap pintu sembari menunggu ia masuk.

Kusiapkan wajah sesuram bisa jadi supaya ia ketahui jika saya marah padanya. Saya telah mempersiapkan diri buat mendiamkannya selamanya. Pokoknya ia wajib ketahui jika saya marah! Martin yang 10 tahun lebih berusia ketahui gimana wajib berperan mengalami saya. Ia diam saja dikala saya mendiamkannya. Kemudian mulai mengajakku makan. Saya menolak. Ia terus mengajakku bicara serta menceritakan jika ia bangun kesiangan sehingga terlambat kerja. Ia pura- pura tidak ketahui saya marah padanya. Sejurus setelah itu ia mulai memelukku serta berkata jika ia lekas kembali sebab takut saya belum makan ataupun kesepian di rumah. Lambat- laun saya kasihan pula padanya. Ia baik padaku. Sesungguhnya yang salah saya. Saya yang memaksanya melaksanakan itu. Sementara itu kemarin ia telah ingin tidur, saya malah merangsangnya habis- habisan. Yah, saya yang salah. Semacam membangkitkan macan tidur. Saya juga mulai melunak. Saya mulai menanggapi pertanyaannya sepatah- sepatah hingga kesimpulannya atmosfer mulai cair. Paham umpannya mengena, Martin mulai merayuku serta menggodaku.

Saya tidak tahan digoda serta mulai membalas godaannya.“ Martin, kalian wajib bertanggung jawab! Kalian wajib kawin sama saya!” serangku.“ Jangan kuatir sayang! Saya ini dari dahulu pula suka sama kalian. Hanya saya khawatir kalian yang tidak ingin sama saya sebab saya sangat tua. Hahahaha..” balasnya. Saya tidak hirau pikirku. Toh saya pula merasa sesuai dengan Martin. Ia begitu berusia. Ia dapat momong saya. Perkaranya, ia 10 tahun lebih tua dari saya. Apa orang tuaku sepakat saya menikah dengannya? Pikiranku telah jauh lebih baik saat ini. Martin memelukku erat- erat serta menghiburku. Saya jadi kian sayang padanya. Akibat peristiwa malam itu, nyaris masing- masing hari saya making love dengannya. Kami melaksanakan di rumahnya, di hotel, di kamar mandi, di mobil serta dimanapun kami ingin! Bermacam posisi kami jalani. Saya betul- betul ketagihan bersenggama! Apalagi kami sempat menginap seharian di hotel serta tidak keluar kamar sama sekali. Dikala itu saya hingga orgasme sebelas kali waktu making love dengannya! Betul- betul liar serta tidak terkendali! 

0 comments:

Posting Komentar